Tak Berharta Tak Berbaju Telanjang

Mencermati problematika, nasibkah? Atau permainan yang secara khusus ditata untuk membuat kita buta?

 
Muhammad Arira Fitra/Bireck (LMND Lampung)
Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk sosial terlahirnya sama tak berharta tak berbaju telanjang. Lalu mengapa sering muncul pernyataan dikeseharian masyarakat setiap orang ada masanya, kehidupan seperti roda yang berputar terkadang diatas terkadang dibawah, pernyataan ini dapat dianalogikan bahwasannya manusia cukup dengan menunggu saja ketika ia sedang dibawah, toh juga pada waktunya nanti akan diatas sesuai pada masanya ? lalu bagai mana dengan nasib orang miskin contoh seperti pemulung,pengemis, dan anak terlantar mayoritas dari mereka yang sampai akhir hayatnyapun ia tetap menjadi seorang pemulung, pengemis, dan terlantar ini bagaimana kok masa mereka diatas tak kunjung tiba, ini memang kodratnya miskin atau dimiskinkan oleh sistem atau rodanya lagi bocor ????

Jika kita menoleh kebelakang pada zaman pra sejarah (primitive) awalnya manusia hidup nomaden yakni berpindah-pindah. Mereka belum tau bercocok tanam, sehingga terus bergerak mencari sumber makanan. Berburu dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan-tumbuhaan disekitarnya adalah cara produksi yang utama pada masa itu, dari pagi hingga malam mereka disibukan dengan mencari makan untuk keberlangsungan hidup. Tidak ada kepemilikan pribadi berburu dan meramu tidak memungkinkan adanya kepemilikan pribadi. Binatang-binatang liar yang diburu tidak mungkin dijadikan milik pribadi. Tidak ada tanah yang bisa dimiliki secara pribadi karena mereka terus berpindah-pindah mencari binatang buruan selanjutnya  untuk keberlangsungan hidup. Pada masa ini pula karena semua milik bersama, maka tidak ada perbedaan  atau kesenjangan kelas, antara yang berpunya dan tidak berpunya, antara si miskin dan si kaya terutama dalam kepemilikan alat produksi. Dengan tidak adanya kelas-kelas oleh karenanya tidak ada penindasan oleh satu kelas terhadap kelas yang lain, atau penindasan manusia atas manusia.

Lalu mengapa timbul masyarakat kelas ? apakah yang menyebabkan pergaseran ini ? apakah karena tiba-tiba ada segelintir orang yang serakah dan jahat,yang ingin menjadi penguasa ? Tidak. Pergeseran ini terjadi karena adanya perubahan modus produksi. Antara 10 ribu dan 12 ribu tahun yang lalu, manusia membuat loncatan dalam hal produksi makanan dari berburu meramu, menjadi bercocok tanam dan beternak. Ini memungkinkan mereka menetap tidak lagi berpindah-pindah(nomaden). Zaman ini disebut dengan zaman batu baru, mereka bisa membangun tempat menetap yang kurang lebih permanen, yang memberikan dorongan lebih besar terhadap teknologi pembuatan perkakas. Populasinyapun semakin membesar. Dengan lahirnya pertanian dan peternakan, maka manusia dapat menghasilkan makanan berlebih atau surplus. Dari kemampuan memproduksi surplus makanan ini, dan peningkatan kesejahteraan secara umum, mulailah tertuai bibit-bibit masyarakat kelas. Mulai lahirnya kepemilikan pribadi. Pada zaman batu muda ini, kepemilikan kolektif masih mendominasi. Pertanian dan peternakan masih dikerjakan secara kolektif atau bersama-sama dan dimiliki bersama-sama pula, belum ada mukiman-mukiman terpisah. Semua tinggal disatu atap besar layaknya dulu zaman berburu mramu. Namun, perlahan-lahan dengan kemaampuan memproduksi surplus makanan mungkinkan tiap-tiap klan mulai memisahkan diri dari kepemilikan kolektif (bersama). Mereka tidak perlu lagi bekerja sama  seperti dahulu untuk menjaga keberlangsungan hidup. Tanah dan ternak dan juga perkakas-perkakas kerja mulai dijadikan milik pribadi, yakni milik klan dan bukan lagi millik suku bersama. Ada tanah yang lebih subur, ada ternak yang lebih produktif. Ini yang kemudin menciptaan perbedaan ekonomi diantara  klan-klan yang berbeda, yang lantas  perlahan-lahan mengkristal menjadi perbedaan kelas atau kesenjangan kelas antara yang memilikii alat produksi dan yang tidak memiliki alat produksi.

Kemudian berpindah kemasyarakat Budak ? Dahulu, ketika terjadi peperangan antar suku, bagi suku yang kalah adalah mati atau menjadi budak. Dengan adanya pertanian dan peternakan yang bisa menghasilkan surplus makanan, maka tenaga budak menjadi sesuatu yang diincar-incar. Para budak bisa dipaksa bekerja untuk  menghasilkan surplus untuk tuannya. Tetapi bgaimana carnya mengendalikan budak ? Masyarakat primitive tidak mempunyai alat-alat pemaksa untuk mengendalikan budak. Maka lahirlah Negara dengan alat-alat pemaksanya untuk melindungi kepentingan pemilik alat produksi. Dalam hal ini pemilik alat produksi adalah pemilik budak. Alat-alat kekerasan dimonopoli oleh Negara. Dibentuklah polisi dan tentara sebagai kesatuan bersenjata yang terpisah dari masyarakat. Hanya mereka yang boleh mmenyandang senjata. Hukum yang berpihak terhadap kekuasaan ekonomi harus ditulis dan diimposisikan. Pengadilan dengan hakim-hakimnya dibentuk sebagai sebuah institusi hukum yang terpisah dari rakyat, yang tujuan utamanya adalah melindugi hak milik, para pemilik budak dengan berbagai perangkat hukum. Selain alat kekerasan, diperlukan juga para oran-orang pintar yang tugasnya memberikan kebenaran moral terhadap kekuasaan. Pada tahun 1998 pada era reformasi banyak dari saudara-saudara kita, yang membela suara rakyat untuk menumbangkan rezim orde baru sampai harus meregang nyawa, mereka tewa dengan moncong-moncong senjata aparat keamanan Negara, inilah salah satu bukti bahwa aparat keamanan diciptakan hanya untuk melindungi kepentingan penguasa atau peodal untuk menindas rakyat..

Bisa kita relevansikan di era modern atau era globalisasi ini, Mereka yang mempunyai modal yang besar berkuasa, mereka yang mepunyai modal yang besar dapat meraup keuntungan dengan cara merugikan orang lain, sehingga membuat si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Zaman modern ini tidak ada perbedaan pada masa perbudakan, jika pada masa perbudakan para budak bekerja hanya diberi makan oleh pemilik budak, begitu juga era modern buruh bekerja kapada penguasa dan digaji hanya cukup untuk makan. Di bumi Nusantara sendiri cara yang paling mudah bagi pemodal untuk meraup keuntungan yang besar ialah dengan cara memotong biaya produksi, salah satunya adalah memotong gaji buruh atau tenaga produktif. Dimana buruh dibayar murah tidak sesuai dengan apa yang ia produksi, padahal tanpa buruh perusahan atau pabrik tidak bisa memproduksi, seharusnya buruh mendapatkan upah sesuai yang memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) tapi buruh bisa apa ditengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini mau tidak mau buruh hanya menerima, demi keberlangsungan hidup. Bumi pertiwi adalah bumi yang kaya raya, sebagai Bukti banyak bangsa-bagsa eropa yang mencoba merebut bumi Indonesia dengan tujuan menguras sumber daya alam kita. Sekarangpun kekayaan alam kita masih banyak yang dikuasai oleh Negara asing, yang seharusnya itu bisa di kelolah oleh Negara untuk mensejahterakan rakyatnya, namun dengan adanya peraturan tentang penanaman modal asing dan di legitimasi oleh pemerintah inipun menjadi bukti bahwa peraturan yang dibuat hanya untuk melindungi peguasa atau pemodal. Cita-cita the faunding fathers tentang Negara kesejahteraan (welfarestate) seolah sirna, digerogoti hama-hama yang ditebar oleh penghianat Negeri ini. Maka dari itu mmarilah kita menyatukan diri untuk menumpas segala bentuk tirani di Negri ini.

Negara yang seharusnya mensejahterkan rakyatnya dan aparatus ideologis atau wakil rakyat yang seharusnya menjadi alat bagi Negara untuk mensejahterakan rakyatnya dengan kebijakan-kebijakn yang pro rakyat. Namun sekarang telah beralih fungsi Negara menjadi alat untuk menindas rakyatnya dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pro terhadap penguasa (pemodal), hal inilah yang mebuat kesenjangan sosial anatara simiskin dan sikaya tak pernah sirna, sejatinya kita terlahir sama namun system yang yang membuat kita berbeda.  

Apakah ini yang disebut roda kehidupan ?
Apakah orang miskin dilarang berpendidikan dilarang sekolah adalah nasib ? Sedangkan dalam UUD 1945Pasal 31 ayat 1: Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat 2 : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun pada kenyataannya masih banyak saudara kita yang putus sekolah, tidak mampu mengenyam pendidikan, karena begitu mahalnya pendidikan di Negeri ini.


Apakah buruh sama saja seperti budak ini adalah nasib ? Sedangkan dalam UUD 1945 Pasal 28D Ayat 2 : Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. Tapi apa yang terjadi saat ini masih banyak buruh yang tidak dapat mendapatkan kesejahteraan, sesuai kebutuhan hidup layak (KHL) masih begitu banyak buruh yang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena upah buruh saat ini hanya cukup untuk makan.

Apakah fakir miskin dan anak terlantar itu adalah nasib ? Sedangkan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Namun pada kenyataannya masih banyak fakir miskin dan anak terlantar yang tidak diperhatikan oleh Negara.

Apakah orang miskin dilarang sakit itu adalah nasib ? Sedangkan dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 3: Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan pelayanan umum yang layak. Namun pada kenyataannya, khusus di Provinsi Lampung sendiri masih banyak rumah sakit yang menelantarkan pasien bahkan membuang pasien sampai meninggal dunia dan masih banyak lagi kasus-kasus pelayanan kesehatan di Negeri ini khususnya bagi orang miskin.


Apakah ini yang sering kita dengar sehari-hari bahwa roda kehidupan itu berputar, terkadang diatas terkadang dibawah. TIDAK !!!! Karena sejatinya tidak ada manusia  yang mau menjadi pengemis yang harus kelaparan, tidak ada manusia yang mau menjadi pemulung dengan susah payah mencari rongsokan demi keberlangsungan hidup, apakah ada manusia yang mau menjadi bandar Narkotika, apakah ada manusia yang mau jadi perampok, yang hidupnya tidak tenang selalu dihantui bayangan penjara, apakah ada manusia yang mau jadi pelacur yang jiwa dan raganya selalu tersiksa, kawan-kawanlah lah yang dapat menjawab pertanyaan itu ????

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. (bung Karno). (FRS)
Salam Pembebasan !!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERNYATAAN SIKAP LIGA MAHASISWA NASIONAL UNTUK DEMOKRASI - DEWAN NASIONAL (LMND-DN).

Tentang Represifitas di Meksiko, Organisasi Dunia Angkat Bicara