E-Kom LMND UBL;  Peringati hari Kartini, Bagikan Selebaran Kepada Mahasiswa dan Masyarakat

Resma Liana
Foto : Resma Liana

Hari Kartini. Ada sebagai suatu bentuk penghormatan atas wujud perjuangan kaum wanita, sebagai simbol kesetaraan gender serta Emansipasi wanita. Dimana pada saat itu Raden Adjeng Kartini atau lebih dikenal dengan Raden Ayu Kartini berusaha memperjuangkan Hak-hak wanita, agar wanita bisa memilih, bisa menentukan nasibnya sendiri serta mampu membuat keputusan sendiri tanpa ada diskriminasi dari kaum pria. Ia berjuang tidak dengan tindakan kekerasan, tapi tetap radikal.

Dewasa ini, Hari Kartini hanya dianggap sebagai ajang ceremonial semata. Padahal seharusnya kaum wanita sadar dan paham  bahwa Hari Kartini adalah hari yang melambangkan bangkitnya wanita Indonesia untuk lebih kreatif dalam memperjuangkan hak-haknya.
Oleh karena kurangnya kesadaran itu, tepat pada tanggal 21 April 2015 E-Kom LMND UBL membagikan selebaran dengan judul “Bangkit dan Berjuanglah Wanita Indonesia” yang berjumlah 200 lembar kepada Mahasiswa dan Masyarakat.

M. Arira Fitra, Ketua E-Kom LMND UBL, di sela-sela membagikan selebaran  mengatakan “kegiatan bagi-bagi selebaran ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat juang kaum wanita yang saat ini sudah mulai terkikis, dan juga untuk menyadarkan wanita-wanita Indonesia bahwa mereka mampu bangkit dari ketertindasan kaumnya yang masih banyak terjadi di bumi pertiwi ini”

Kondisi wanita saat ini masih belum sesuai dengan apa yang diperjuangkan kartini pada saat itu. Masih banyak wanita yang belum mampu mengenyam pendidikan, masih banyak wanita yang menjadi budak di negara lain, dan masih banyak wanita Indonesia yang menjadi bahan pelecehan serta diperjual belikan. Semua itu terjadi karena alasan klasik yaitu himpitan Ekonomi, lalu dimana peran negara yang seharusnya mampu mensejahterakan rakyatnya? 

“saat ini perempuan masih tetap dijajah meskipun dalam bentuk penjajahan yang berbeda. Perempuan saat ini memang tidak dipingit seperti yang dialami kartini, perempuan memang diperbolehkan sekolah, tapi bagaimana hendak bersekolah jika kemiskinan masih menjerat kaki dan tangan perempuan. Saat ini hanya ada 1 jalan untuk kita kaum perempuan, yaitu Lawan!” ungkap Kristina Tia Ayu, sekretaris komisariat UBL.

Fakta menunjukan bahwa 6 juta lebih rakyat indonesia menjadi buruh migran di luar negeri dan mayoritasnya adalah perempuan yang sebagian besar menjadi pekerja rumah tangga. Jumlah ini meningkat 1-2 juta setiap tahunnya. Bayangkan saja, perempuan di ekspor oleh negara ini untuk menjadi pembantu rumah tangga, dipukuli, diludahi, bahkan diperkosa oleh majikannya sendiri diluar negeri.

E-Kom LMND UBL berharap semoga hari Kartini ditahun ini dan tahun-tahun mendatang, bukan sekedar ceremonial dengan kegiatan-kegiatan perlombaan, tapi muncul Kartini-Kartini baru yang melegenda seperti salah satu tokoh pejuang wanita Indonesia, ibu Kartini. Selamat hari kartini bagi seluruh wanita Indonesia.(FRS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERNYATAAN SIKAP LIGA MAHASISWA NASIONAL UNTUK DEMOKRASI - DEWAN NASIONAL (LMND-DN).

Tentang Represifitas di Meksiko, Organisasi Dunia Angkat Bicara