OPINI
Mengejar Tapi Berlari
![]() |
| Kristina Tia Ayu |
Ikut berjalan
atau berlari meninggalkan mereka yang berjalan? Jika semua berlari apakah anda
akan berjalan? Karena sangat jelas orang
yang berjalan pasti akan kalah dengan orang yang berlari. Namun jika mereka
berlari dan anda berlari? Lalu siapa yang menjadi pemenangnya? Biar waktu yang
menjawab !!!
Manusia
terlahir untuk berfikir, tanpa disadari semua yang ada di dunia adalah hasil
pola pikir manusia itu sendiri. Tapi semua tergantung pada manusia itu sendiri
apakah akan melanjutkan pemikirannya yang radikal apa cenderung berdiam di
tempat yang sama. Kalanya manusia mempunyai sifat ingin berkembang, selalu
ingin mewujudkan keinginannya karena manusia tidak pernah merasa puas dengan
apa yang sudah ada. Sejatinya manusia pun ingin maju dan menjadi pemimpin,
manusia berlomba-lomba menguasai segala hal bahkan menguasai hidup dan
kehidupannya.
Manusia
yang terlahir sama tidaklah memiliki pola pikir yang sama pula. Masing-masing
manusia mempunyai pemikiran dan cara pandang yang berbeda. Tidak sedikit juga
dari mereka memiliki tujuan yang sama dalam wujud merubah hidup dan jalan
kehidupannya. Bagi sebagian manusia keadaan kehidupannya merupakan apa yang
sudah di siratkan sang maha pencipta. Namun, bagi sebagian manusia lainnya
berpikir bahwa keadaan kehidupannya merupakan hasil dari apa yang sudah
dikerjakan dan diperjuangkannya selama ini. Menurut
anda manakah yang tepat??? Kita bukan mencari kebenaran namun ketepatan
karena sesungguhnya manusia harus belajar bukan dari kebenaran saja tapi apa
yang menjadi kesalahan itu sendiri. Setiap manusia selalu ingin argumennya di
menangkan maka dari itu semua argumen disatukan dan di cari seperti apa
ketepatannya.
Pada
dasarnya sang pencipta lah yang menciptakan kita dan segala isi di dunia ini.
Eiitttsss....tunggu dulu! Bukan berarti loh kalo apa yang terjadi didunia
karena takdir, sang pencipta menciptakan manusia dengan akal pikiran yang
kemudian manusia itu sendiri yang berusaha mengubah keadaannya menjadi lebih
baik lagi. Mengapa manusia tidak pernah merasa puas? Benar karena rasa tidak
puas itu sendiri yang akan mendorong manusia bertekad merubah segala hal yang
membuat ia tidak puas menjadi lebih puas. Rasa itu juga akan menjadi belenggu
ketika belum menuju titik terang antara kepuasan itu sendiri. Timbul pertanyaan
bagi manusia yang berlimpah harta dan kedudukan lalu apa lagi yang mereka cari?
semakin banyak harta yang dimiliki maka semakin rasa tidak puas itu menghantui
kepala sang pemilik kedudukan(pemerintah) disebabkan ketamakan dan keserakahan.
Mereka yang berkedudukan tinggi rela bermain api demi dollar nya amerika. Tanpa
atau dengan mereka sadari mereka lah yang membuat manusia tanpa kedudukan
(rakyat) merasa tidak puas dengan kinerja pemilik kedudukan. Pemerintah selalu menggambarkan
taman bunga yang indah, harum, sejuk bagai surga untuk rakyatnya namun taman
bunga itu menjadi seonggok sampah yang menjijikkan yang harus ditelan rakyat.
Negeri
ini sudah hancur ! dihancurkan para penghuni kaum munafik yang selalu ingin
memandikan dirinya dengan dollar, yang selalu ingin menyemprotkan kemaluannya
dengan parfum luar negeri. Pak??? Jikalau bapak saat ini merasakan sangat amat
sengsara dari apa yang diperbuat mereka, lalu bagaimana dengan nasib kami pak
anak dan cucu kalian nanti? Apabila sudah tidak ada yang akan merubah nasib
negeri ini pak? Kasihani kami pak...kami ingin merdeka, merdeka semerdekanya
tak ada lagi penjajahan dalam negeri ini, kemerdekaan yang menjanjikan masa
depan kami, kemerdekaan rasa sosial kami sebagai anak negeri, kemerdekaan untuk
semua kalangan bukan hanya yang berkedudukan.
Tengok
kami sedikit pak, kami butuh cahaya terang yang nantinya akan membawa kami lari
dari kegelapan negeri saat ini. Kami yakin keringat bapak akan menghancurkan
penguasa negeri yang memakan panganan kami , kami yakin sekalipun darah yang
bercucuran dari tubuh bapak tidak akan menggoyahkan semangat bapak untuk
merebut kedaulatan. Kalaupun tak ada lagi cahaya itu kami yang hanya seorang
anak kecil yang tak mengetahui apa-apa akan turun sendiri. Kami turun bukan untuk
memberontak tapi kami melawan, menghancurkan mereka yang menahan kami dalam
sebuah angan yang sebenar-benarnya hanya menjadi harapan yang terkubur bersama
jiwa kemanusiaan mereka.
Sebelia
ini kami memberanikan diri menanamkan di dalam hati, berbicara pada diri
sendiri “aku bisa! sang penindas harus pergi! Negeri jaya sakti!”. Demi
kehidupan kami kelak, demi keluarga, teman, saudara-saudara, kami akan terus
berlari mengejar mimpi manusia tak berkedudukan itu.(FRS)
Tidakkah hati bapak
tergoyah? Setega apa bapak melihat kaki kecil kami berlari???

Komentar
Posting Komentar