AKSI TERTULIS
EK-LMND-LAMSEL; JELANG PEMILU, BAGIKAN SELEBARAN “CATATAN MENJELANG PESTA RAKYAT”
Tika Windar Ningsih
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Eksekutif kota Liga
Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi melakukan
pembagian selebaran yang berjudul “ Catatan Menjelang Pesta Rakyat” diiringi
dengan penyampaian aspirasi, di lampu merah Jln. Kolonel Makmun Rasyid.(Rabu,22
Juni 2015)
Menurut pantauan kontributor suara pelopor EK- LMND Lamsel,
selebaran “Catatan Menjelang Pesta Rakyat” tersebut berisikan evaluasi kinerja
Kepala Daerah selama lima tahun dan memeberi pengetahuan serta pengarahan
kepada masyarakat tentang bagaimana cara menentukan pilihan calon Bupatinya
saat pemilukada yang digelar pada 09 Desember mendatang.
Dedi Manda P,Selaku sekretaris EK-LMND Lamsel menyampaikan
kepada suara pelopor bahwah, Lampung Selatan terbilang memiliki usia yang cukup dewasa namun dalam
perjalanannya ada sebuah realita
terpampang jelas yang bisa dilihat dengan kasat mata bahwa adanya modernisasi yang dipaksakan.
“Sebuah kemajuan bukan dilihat dari konteks bangunan yang
megah, gedung tinggi ataupun monumen yang indah namun kemajuan dalam tingkat
kesejahteraan rakyatnya, untuk apa rumah sakit mempunyai fasilitas yang megah
apabila maasyarakatnya tidak bisa berobat karena mahalnya biaya berobat, apa
gunanya sekolah mewah tapi banyak anak-anakputus sekolah karena mahalnya biaya
pendidikan, dan untuk apa pembangunan infrastruktur kota yang modern jika
infrastruktur jalan di desa-desa tidak bisa terakses karena kondisi jalan rusak
parah serta untuk apa adanya perusahaan jika gaji buruhnya kecil yang hanya
cukup untuk makan,” ujarnya.
Abdurrahman selaku Ketua EK-LMND Lamsel mengatakan, penyebab kondisi
yang terjadi saat ini dilampung selatan karena kultur politik yang negatif
bersifat manipulatif terus berkembang biak ditatanan pemerintah sampai
ditingkatan yang paling rendah, sehingga rakyat hanya menjadi bola permainan
para elite politik.
”Kemajuan yang dipaksakan dengan konteks pembangunan kota
modern hanya akan menambah tingkat kemiskinan dan bertambahnya jumlah
pengangguran sehingga menjauhkan masyarakat dari kata sejahtera,” tuturnya.
“ masyarakat tak butuh kota modern, yang mereka butuhkan
adalah keadilan, petani butuh pupuk bersubsidi yang tidak langka, butuh bibit
yang murah dan ketetapan harga hasil pertanian, buruh( buruh pabrik, karyawan
toko, guru, jurnalis dan masyarakat yang digaji) butuh upah yang cukup guna
menghidupi keluarganya, para pengrajin butuh pasar dalam memperkenalkan barang
produksi, penyedia jasa kendaraan bernotor butuh harga bahan bakar minyak yang
terjangkau, pengusaha kecil butuh modal dengan bunga yang kecil pula, pengelola tempat wisata butuh fasilitas infrastruktur yang
baik agar mudah diakses para wisatawan,”tambah Rahman.
Doni Armadi Selaku korlap mengungkapkan, Tempat wisata yang
bertumpah ruah, hasil bumi yang melimpah dilampung selatan
merupakan sebagian kecil penompang pendapatan daerah ditambah lagi dengan
banyaknya perusahaan besar yang berdiri tegak dilampung selatan namun potensi tersebut tidak terkelola dengan
baik untuk mensejahterakan rakyat.
“Lima tahun masa kepemimpinan adalah waktu yang cukup ideal
untuk melakukan perbaikan khususnya di Lampung Selatan, realitas yang terlihat
di hari ini dengan berbagai pembangunan dan fasilitas yang membuktikan bahwa
inilah hasil kinerja selama lima tahun. Pemerintahan tidak mampu mengkomodir
kebutuhan rakyatnya, karena para pejabat kebanyakan hanya berebut kekuasaan,
peduli para penguasa terhadap rakyat ini datang ketika momen-momen akhir masa
jabatan (kampanye) yang bisa dikatakan adalah perbuatan picik yang selama ini
diterapkan”. tutup Doni Armadi.(FRS)
Komentar
Posting Komentar