AKSI MASSA



G-28S-ML ; DESAK DPRD DAN PEMPROV PENUHI TUNTUTAN YANG DIAJUKAN
Funky Rulita Sari
 
Foto : Resma Liana
Bandar Lampung, 28 September 2015 

Suara Pelopor_Puncak rangkaian kegiatan peringatan 16 Tahun Tragedi UBL Berdarah berpusat di Jl. Z.A Pagar Alam No.26 Labuhan Ratu Bandar Lampung, tepat di depan kampus UBL. Massa aksi yang berasal dari kampus Universitas Lampung dan IAIN Raden Intan Lampung berkonvoi menuju titik aksi.

Ratusan massa yang tergabung dalam aliansi G-28S-ML menyampaikan orasi dan aspirasinya di tengah hiruk pikuk salah satu jalan utama di kota tapis berseri. Sambil menyayikan lagu-lagu perjuangan gerakan mahasiswa dalam aksi kali ini ada ilustrasi tragedi UBL Berdarah enambelas tahun silam.

Ada empat tuntutan massa yang di perjuangkan dalam pengusutan tuntas tragedi UBL Berdarah antara lain
1. Bentuk Tim Investegasi dan Peradilan AdHoc untuk segera menyelesaikan kasus Tragedi UBL 2. Berdarah
3. Bangun Monumen peringatan Tragedi UBL Berdarah
4. Ubah Nama graha kemahasiswaan Unila menjadi Graha saidatul Fitria
5. Tolak RUU Keamanan Nasional.

Massa yang dipimpin oleh Korlap M Arira Fitra (E-KOM LMND UBL) melanjutkan aksi dengan konvoi menuju Kantor DPRD Provinsi Lampung dan Kantor Gubernur Lampung. Di hadapan gedung megahitu perwakilan dari masing-masing organisasi kembali menyampaikan orasinya dan mendesak para anggota DPRD Provinsi Lampung untuk keluar dari gedungnya.

Perwakilan dari Komisi I DPRD Provinsi Lampung, Aprilianti yang menyambangi massa aksi di depan gedung mengatakan bahwa “Mahasiswa agar sabar  dan menunggu informasi dari anggota DPRD hingga oktober mendatang, mengingat ini adalah kasus yang sudah cukup lama.”

Tidak puas massa bergeser menuju ke kantor Gubernur Lampung di sisi kanan komplek kantor pemprov Lampung. Yang di inginkan adalah segera terealisasinya semua tuntutan mahasiswa terkait tragedi UBL Berdarah yang sudah akut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERNYATAAN SIKAP LIGA MAHASISWA NASIONAL UNTUK DEMOKRASI - DEWAN NASIONAL (LMND-DN).

Tentang Represifitas di Meksiko, Organisasi Dunia Angkat Bicara