BERORGANISASI ADALAH BERJUANG
Situasi
pendidikan Indonesia yang semakin memburuk merupakan akibat dari praktik
kapitalisasi pendidikan yang terjadi di Indonesia. Pendidikan tinggi yang diberikan di berbagai
universitas semakin membuat mental mahasiswa menjadi “mental kerbau” yang
selalu tunduk pada aturan, ingin segera lulus dan cepat mendapatkan pekerjaan. Hal ini tentunya semakin menegasikan
pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk mensejahterakan umat manusia.
Pada
saat pertama kali masuk kuliah, calon mahasiswa sudah dihadapkan oleh sistem
seleksi yang kompetitif, namun tidak sedikit pula mahasiswa yang mengalami salah
jurusan karena sistem seleksi yang tidak objektif dan cenderung mengikuti
kebutuhan pasar (kuota/passing grade). Sebelum masuk masa perkuliahan aktif,
mahasiswa dibebani dengan biaya kuliah yang tinggi namun fasilitas kampus tidak
memadai. Setelah masuk masa perkuliahan
aktif, mahasiswa dibebani dengan banyak tugas yang tidak ilmiah dari dosen
sehingga membuat gairah mahasiswa berorganisasi pun menjadi kurang karena
terlalu fokus mengejar IPK yang tinggi agar cepat lulus. Alhasil mahasiswa menjadi semakin apathis
terhadap kondisi kampus. Selain itu,
birokrasi kampus juga mendikte dan menghambat organisasi kemahasiswaan untuk
tidak melakukan aktivitas seni, aktivitas politik hingga aktivitas sosial. Ini merupakan strategi kampus yang dilakukan
untuk mencairkan persatuan mahasiswa dalam melawan kapitalisasi
pendidikan. Birokrasi kampus pun
menganggap bahwa aktivitas mahasiswa dalam mengkritik kebijakan kampus yang
tidak sesuai merupakan tindakan yang mencemarkan nama baik almamater. Untuk dapat melawan hal tersebut mahasiswa
tidak dapat secara individual, perlunya bersekutu dalam organisasi itu
mutlak. Berorganisasi tidak hanya sekedar
untuk softskill namun lebih jauh
yaitu untuk pola pikir kritis, pengilmiahan teori dan persatuan mahasiswa yang
terpencar pada individu dan golongan bahkan lebih jauh lagi.
Ketika
kita berbicara mengenai organisasi massa maka kita tidak bisa terlepas dari organisasi
rakyat pekerja seperti buruh, tani dan kaum miskin kota. Di negara kapitalis maju terdapat organisasi
massa serikat buruh dan partai buruh yang menjadi organisasi massa dominan, ini
dikarenakan di negara-negara kapitalis maju pertentangan antar kelas sangatlah
jelas, di satu sisi terdapat kelas borjuis, di sisi lain terdapat kelas
proletariat. Namun di beberapa negara
dunia ketiga seperti Indonesia terdapat kelas tertindas lainnya seperti kaum tani,
kaum miskin kota dan nelayan bahkan mahasiswa, ini menyebabkan relasi kelas lebih
kompleks maka organisasi massa yang terbentuk pun kompleks.
Dalam
mencapai tujuan harus dipahami bahwa roda organisasi massa dapat bergerak
ketika subkerja organisasi pun berjalan.
Pertama yaitu ideologi,
ideologi dalam organisasi massa merupakan landasan yang digunakan dalam melakukan
kerja organisasi yang terdiri atas nilai-nilai yang telah disepakati bersama atas
pandangan dunia dalam Negara. Sub-Ideologi
erat kaitanya dengan pemahaman dasar organisasi pada penggerak organisasi dalam
melakukan kerja organisasi seperti agenda pendidikan, kajian akademis, bedah
buku, tulisan, diskusi dan lain-lain. Kedua yaitu politik, politik dalam
organisasi massa merupakan cara yang dilakukan untuk dapat memperbesar kekuatan
secara politis berdasarkan ideologi.
Sub-Politik yang dilakukan berupa aksi massa, pembentukan front,
pendidikan politik terhadap masyarakat dan lain-lain. Ketiga,
yaitu organisasional, organisasional dalam organisasi massa merupakan
pelaksanaan kerja organisasi yang didasarkan atas ideologi. Sub-Organisasional yang dilakukan seperti
ekpansi basis internal, pelaksanaan displin (iuran, rapat dan laporan),
penjadwalan dan lain-lain. Ketiganya
dijalankan oleh penggerak organisasi yaitu Kader, Anggota dan Simpatisan.
Penulis :
Agung Prabowo (Universitas Lampung)

Komentar
Posting Komentar