PENDERITAAN MASSA RAKYAT INDONESIA DALAM BUMI MANUSIA
Buku “Bumi Manusia” bercerita tentang masa
kehidupan era Kolonial Hindia Belanda di era Kolonialisme Belanda yang
dipusatkan pada seorang tokoh bernama Minke. Ia adalah seorang remaja pribumi
keturunan bangsawan Jawa berusia 18 tahun yang menempuh pendidikan di
H.B.S. Minke merupakan salah satu dari
hanya sedikit rakyat pribumi yang mampu menempuh pendidikan pada saat itu. Oleh
sebab adanya diskriminasi dari pemerintah kolonial, sehingga pendidikan hanya
dapat dienyam oleh bangsa belanda itu sendiri dan oleh rakyat pribumi dari
golongan priyai.
Kisah dalam buku ini menggambarkan rangkaian
kesatuan antara cinta dan perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan. Gambaran
yang pertama adalah kecintaan Minke terhadap ilmu pengetahuan yang membawanya
menjadi seorang intelektuil dikalangan bangsanya, dimana ilmu yang dimilikinya itu
mampu bersejajar dengan pengetahuan para golongan totok Eropa. Yang kedua
adalah kecintaan Minke terhadap kepribumiannya dan martabat bangsanya, dengan kegelisahannya
terhadap ketertinggalan dan pembodohan di tanah airnya yang terjajah. Dan
ketiga adalah kecintaannya terhadap sosok gadis Indo bernama Annelis yang
beribu seorang gundik bernama Nyai Ontosoroh, seorang perempuan pribumi paling
luar biasa yang ada dizaman itu barangkali, berpengertahuan Eropa dan sebagai
kepala penggerak perekonomian di daerah Wonokromo.
Kisah cintanya ini telah membawa
Minke terhanyut kedalam pengalaman dan pelajaran hidup amat besar hingga harus menghadapi
banyak persoalan hidup rumit diusianya yang tergolong masih terlalu muda. Annelis,
Nyai Ontosoroh, dan Wonokromo telah menghadapkannya dengan berbagai persoalan
yang teramat jauh mengenai pertentangan kemanusiaan,
khususnya keadilan bagi rakyat pribumi. Disetiap sendi, baik itu kesetaraan
sosial, hukum, pendidikan, dan yang lainnya tetap akan selalu bias selama
masyarakat tertindas dalam kungkungan imperialis.
Pengalamannya-pegalaman itu menggiringya
untuk dengan rela menaruhkan masa mudanya bagi perjuangan hidup mempertahankan
kerhormatan bangsa pribumi. Segala perjuangan yang memang tak bakal mungkin menemui
kemenangan, akan tetapi juga bukan pula perjuangan yang sia-sia tanpa arti,
karna sesungguhnya setiap jengkal perlawanan adalah tanda bahwa diri dan
bangsanya belum kalah. Selama masih ada yang bergerak dan orang orang tidak
tinggal diam terhadap kesewenang-wenangan, tak akan pernah pula bergema gaung
kekalahan.
Kisah perjuangan dalam cerita Bumi
Manusia ini adalah refleksi dari pergulatan manusia dari masa ke masa yang
terus-menerus dengan penuh harap melawan penindasan oleh suatu golongan pada
masyarakat tertentu yang belum menemui ujung hingga saat ini.
Penulis :
Shindy
Komentar
Posting Komentar